pursue your dream

Hiburan

Mahasiswa China “Wei Xinlong” Merakit iPad Untuk Dihadiahkan Kepada Pacarnya

Beginilah Cara Mahasiswa China “Wei Xinlong” Merakit iPad Untuk Dihadiahkan Kepada Pacarnya

Pernah dengar cerita tentang seorang mahasiswa China bernama Wei Xinlong, yang ingin memberikan hadiah Apple iPad kepada pacarnya, namun karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli iPad tersebut, maka ia merakit sendiri dan hanya membutuhkan biaya sebesar US$.125.-   :)

Beginilah caranya merakit iPad buatan sendiri …..   :)

Cina selama ini dikenal sebagai negara yang punya kreasi tinggi dalam meniru produk-produk teknologi. Bahkan ada produk yang belum diluncurkan, ternyata sudah ada tiruannya di Cina.

Cerita tentang Wei Xinlong ini mungkin kian menambah deretan cerita betapa masyarakat di Negeri Tirai Bambu itu punya daya kreasi yang tinggi. Apa yang dilakukan Wei ini mungkin tidak untuk membajak seperti yang banyak terjadi di Cina.

Tahu pacarnya, Sun Shasha, teramat ingin mempunyai iPad, Wei Xinlong berniat menghadiahkan tablet besutan Steve Jobs itu kepada Sun. Namun apa daya koceknya tak cukup untuk membeli iPad. Mahasiswa tingkat akhir di Departemen Seni dan Desain Universitas Northeast Normal di Changchun Cina itu lantas memilih membuat sendiri “iPad”, ya iPad versi Wei.

Didorong keinginannya untuk membahagiakan Sun, Wei kemudian segera mencari tahu bagaimana cara membuat tablet lewat tutorial online di Internet. Dari penjelahannya di Internet tersebut Wei kemudian membeli touchscreen dan baterai. Setelah itu dia mengambil sejumlah komponen lain dari laptop lamanya seperti mainboard CPU, kartu video, dan layar.

Wei hanya butuh 10 hari untuk menyatukan bahan-bahan yang sudah ia peroleh itu menjadi sebuah tablet yang layak dan fungsional. Ya tentu saja tablet besutan Wei ini tidaklah selengkap tablet pada umumnya. Tapi Sun sudah bisa tertawa bahagia dengan tablet buatan Wei ini.

“Cukup dengan hanya menyentuh layar, kita dapat membaca, mengunduh, menonton film, bermain game,” ucap Wei. Benar-benar terobsesi dengan iPad, Wei kemudian menambahkan gambar apel keroak pada tablet rakitannya.

“Ini adalah hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan, dan akan saya jaga selamanya,” kata Sun yang kemudian menambahkan hiasan rhinestones pada sisi tablet bikinan Wei tersebut. Sun kemudian memposting artikel The Birth of My Tablet PC. Dalam tempo tiga hari artikel Sun tersebut mendapatkan 100 ribu hit.

Para analis dan sejumlah review menyebutkan apa yang dilakukan Wei ini suatu prestasi tersendiri. Pasalnya, Wei hanya mengeluarkan ongkos US$ 125 atau sekitar Rp 1,12 juta untuk membuat tablet ini.

Weleh…Weleh…Weleh

Rakit iPad Sendiri ?



cikal bakal shuffle dance

Coba liat deh Cikal Bakal dari Shuffle Dance di bawah ini :D 

sekarang bandingin

 


Lirik lagu Ivan Handojo Indah Pada Waktunya

 Lirik lagu Ivan Handojo Indah Pada Waktunya

You spent you life looking for
the one thing that makes it all
worth all the tears that fall
walking down on this road
moving on stepping forward
althought it’s not that easy

* just keep holding on
just keep pressing on
just keep moving on

reff:
ada waktu untuk menangis
tuk tertawa, tuk bertahan saja
ada waktu untuk menunggu, tuk percaya
bahwa semua akan indah pada waktunya

repeat *

ada waktu untuk menangis
tuk tertawa, tuk bertahan saja
ada waktu untuk menunggu, tuk percaya
bahwa semua akan indah

repeat reff
repeat *

pada waktunya

Download via 4shared


JEMBATAN AMPERA

JEMBATAN AMPERA

Struktur Jembatan Ampera :
Panjang 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar 22 m
Tinggi 11,5 m dari permukaan air
Tinggi menara 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara 75 m
Berat 944 ton

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi. Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergo-long nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).

Pembangunan jembatan ini dimulai pada tanggal 16 September 1960, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Menunggu Wajah Baru Jembatan Ampera. Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat. Meskipun jembatan ini sudah tidak bisa diangkat bagian tengahnya, kapal yang tidak terlalu tinggi masih bisa melewati kolongnya.

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.
Jembatan ampera pernah direnovasi pada tahun 1981, dengan menghabiskan dana sekitar Rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan jembatan ampera bisa membuatnya ambruk. Bersamaan dengan eforia reformasi tahun 1997, beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri. Pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi.

Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang


Sejarah Kota Palembang

Selayang Pandang
SEJARAH KOTA PALEMBANG
Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan dan merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota Palembang berjuluk sebagai Venice of the East berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang. Prasasti tersebut menyatakan bahwa pada saat itu, oleh penguasa Sriwijaya didirikanlah sebuah Wanua yang topografinya dikelilingi oleh air bahkan terendam air. Pembentukan sebuah Wanua tersebut ditafsirkan sebagai kota pada 16 Juni 682 Masehi. Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang, dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan, sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah rendah, sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:
Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan.
Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut : Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.